Supersuperlatif
Superlatif itu sering sukses mengail perhatian. Tapi rasa cukup juga perlu, agar perhatian yang terkail tak merasa dipermainkan. Paling cantik atau tercantik, misalnya, cukup untuk menyanjung suatu spesies bunga. Kalau paling tercantik? Rasa cukupnya jadi enggak ada.
Menimbang hal tadi, maka bagian layak koreksi pada ucapan narasumber dalam penggalan berita berikut ini, mungkin terasa supersuperlatif kalau dijuluki supersuperlatif pula.
“Paling terpenting mampu memberi kepercayaan kepada luar negeri tentang kualitas produk Indonesia, sehingga mampu meningkatkan ekspor,” ujar Direktur Umum PT Nyonya Meneer usai menerima penghargaan.
Masih dalam judul yang sama, prediksi menarik justru muncul saat memastikan angka. Berikut baris berita yang saya maksudkan:
Proses perjalanan mereka lalu dituangkan dalam sebuah buku yang nantinya akan didistribusikan sebanyak 10.000 eksemplar dengan jumlah pembaca mencapai 50.000.
Bukankah akan lebih nyaman kalau kata “target” diselipkan di antara kata “dengan” dan “jumlah”? Atau kalau hendak membuatnya beraura optimis, tambahkan saja kata “target minimal”.


